Djamil Djamal MN IA: Mengenang Sang "Bapak Catur Indonesia" Jasanya Jangan Dilupakan
Mengenang Salah Satu Sosok Di Balik Kemajuan Catur Indonesia
Kalau kita berbicara tentang sejarah catur Indonesia, rasanya tidak lengkap — jika kita tidak menyebut satu nama besar yang sangat berjasa. Nama itu adalah Djamil Djamal, seorang tokoh yang oleh banyak kalangan pecatur Indonesia dijuluki sebagai "Bapak Catur Indonesia."
Julukan itu bukan diberikan secara sembarangan. Bukan pula sekadar gelar kehormatan seremonial belaka. Julukan itu lahir dari puluhan tahun pengabdian tanpa henti, dedikasi catur yang luar biasa, dan cinta yang begitu mendalam terhadap permainan 64 petak hitam-putih yang kita cintai bersama ini.
Mari kita telusuri kisah hidup beliau, agar generasi pecatur masa kini dan masa depan tidak pernah melupakan jasa-jasa sang maestro.
Dari Ranah Minang ke Panggung Catur Nasional
Djamil Djamal lahir pada 22 Juli 1919 di Padang, Sumatera Barat — tanah Minangkabau yang terkenal melahirkan banyak tokoh besar bangsa. Dari kota pesisir nan indah itulah, benih kecintaan terhadap catur mulai tumbuh dalam diri beliau. Di masa ketika catur di Indonesia belum terorganisir dengan baik, ketika belum ada federasi resmi, ketika buku-buku catur berbahasa Indonesia hampir tidak bisa ditemukan — Djamil Djamal sudah mulai menekuni permainan raja ini dengan sepenuh hati.
Bayangkan saja, kita bicara tentang catur Indonesia jaman dulu, masa ketika Indonesia belum lama merdeka. Di tengah situasi bangsa yang penuh gejolak itu, Djamil Djamal justru melihat catur sebagai sesuatu yang bisa mengangkat harkat dan martabat bangsa. Sebuah visi yang jauh ke depan.
Jejak Digital MN Djamil Djamal sebagai atlet/pemain:
https://thechesspedia.net/1961-2/
Pemain Catur yang Kemudian Menjadi Lebih dari Sekadar Pemain
Djamil Djamal tentu dikenal pertama-tama sebagai seorang pemain catur. Beliau bermain, bertanding, dan mengasah kemampuannya di papan hitam-putih. Namun, yang membuat beliau begitu istimewa adalah kenyataan bahwa beliau tidak berhenti hanya sebagai pemain semata.
Banyak pecatur hebat di dunia ini yang hanya fokus pada karier bermain mereka sendiri atau disebut sebagai atlet catur. Tentu saja tidak ada yang salah dengan itu. Tapi Djamil Djamal memilih jalan yang berbeda — jalan yang jauh lebih luas dan berdampak untuk kemajuan catur Indonesia. Beliau memutuskan untuk mengabdikan dirinya bagi kemajuan catur Indonesia, bukan hanya bagi pencapaian pribadinya semata sebagai pemain catur.
Dan dari situlah, peran-peran luar biasa beliau mulai terbentang.
Wasit Catur Internasional: Menjaga Sportivitas di Panggung Dunia
Salah satu peran penting Djamil Djamal adalah sebagai Wasit Catur Internasional (International Arbiter) yang diakui oleh FIDE (Fédération Internationale des Échecs), federasi catur dunia. Ini bukan pencapaian kecil. Untuk mendapatkan gelar International Arbiter dari FIDE, seseorang harus memiliki pengetahuan yang sangat mendalam tentang peraturan catur, etika pertandingan, dan kemampuan mengelola turnamen bertaraf internasional.
Djamil Djamal membuktikan bahwa beliau bukan hanya paham tentang cara bermain catur, tetapi juga paham tentang bagaimana mengatur dan menjaga integritas permainan di level tertinggi. Sebagai wasit internasional, beliau ikut serta memastikan bahwa pertandingan-pertandingan catur berjalan adil, sportif, dan sesuai dengan standar internasional.
Di masa ketika Indonesia masih berjuang untuk diakui di kancah percaturan dunia, kehadiran seorang International Arbiter dari Indonesia seperti Djamil Djamal adalah sebuah kebanggaan yang luar biasa.
Jejak MN Djamil Djamal IA sebagai wasit catur internasional bisa dilacak di arsip The Week In Chess berikut ini:
https://theweekinchess.com/html/twic135.html
Pengurus PERCASI yang Sangat Aktif: Motor Penggerak di Balik Layar
Di balik setiap turnamen catur yang terselenggara dengan baik, di balik setiap program pembinaan pecatur yang berjalan lancar, di balik setiap kebijakan yang mendorong kemajuan catur nasional — selalu ada tangan-tangan pengurus organisasi yang bekerja keras, seringkali tanpa sorotan dan tanpa tepuk tangan. Dan Djamil Djamal adalah salah satu tangan yang paling rajin dan gigih dalam perjuangan tersebut.
Sebagai pengurus aktif PERCASI (Persatuan Catur Seluruh Indonesia), Djamil Djamal bukan sekadar nama yang tercantum di struktur kepengurusan. Beliau di bawah Percasi dan bekerja sama dengan para pengurus Percasi lainnya benar-benar terjun langsung, bekerja di lapangan, memikirkan strategi pengembangan, mengorganisir kegiatan, dan memastikan roda organisasi catur nasional terus berputar.
Kita harus memahami bahwa menjadi pengurus organisasi olahraga — apalagi di era ketika catur belum mendapatkan perhatian besar dari pemerintah dan sponsor — adalah pekerjaan yang sangat berat dan sangat tidak glamor. Tidak ada liputan media yang meriah. Yang ada hanyalah tumpukan pekerjaan administratif, koordinasi tanpa akhir, dan tantangan demi tantangan yang harus dihadapi dengan sumber daya yang seringkali sangat terbatas, termasuk dana tentunya.
Namun Djamil Djamal menjalani semua itu dengan penuh keikhlasan dan semangat yang tidak pernah padam. Beliau memahami bahwa tanpa organisasi yang kuat, catur Indonesia tidak akan pernah bisa maju. Pemain sehebat apa pun tidak akan bisa berkembang maksimal tanpa adanya sistem kompetisi yang teratur, program pembinaan yang terstruktur, dan jalur prestasi yang jelas. Dan semua itu hanya bisa terwujud melalui organisasi yang dikelola dengan serius dan penuh dedikasi.
Berkat keaktifan beliau dan para pengurus PERCASI lainnya yang sama-sama berdedikasi di masa itu, fondasi catur Indonesia perlahan-lahan terbangun. Turnamen-turnamen mulai terselenggara secara lebih teratur. Pembinaan pecatur mulai dilakukan secara lebih sistematis. Hubungan dengan federasi catur internasional mulai terjalin dengan lebih baik. Dan dari fondasi itulah, generasi-generasi pecatur Indonesia selanjutnya bisa tumbuh dan berprestasi.
Jadi, ketika kita hari ini melihat Indonesia memiliki para Grandmaster, memiliki sistem kompetisi catur yang berjalan, memiliki pengakuan di tingkat internasional — jangan pernah lupa bahwa semua itu bermula dari salah satunya dari hasil kerja keras orang-orang seperti Djamil Djamal inilah yang rela mencurahkan waktu, tenaga, dan pikirannya sebagai pengurus PERCASI di masa ketika segalanya masih harus dibangun dari nol.
Dengan pengetahuan dan pengalamannya yang sangat kaya, Djamil Djamal juga melatih dan membimbing banyak pecatur Indonesia. Beliau tidak pelit ilmu. Apa yang beliau tahu, beliau bagikan. Apa yang beliau pelajari dari buku-buku catur dunia, beliau tularkan kepada anak-anak didiknya.
Penulis dan Penerjemah: Membuka Jendela Ilmu Catur bagi Bangsa Indonesia
Inilah mungkin salah satu kontribusi terbesar dan paling monumental dari Djamil Djamal — perannya sebagai penulis artikel catur, penulis buku catur, dan penerjemah buku catur asing ke dalam Bahasa Indonesia.
Kita harus menempatkan diri dalam konteks zamannya untuk benar-benar memahami betapa besarnya jasa ini. Di era ketika internet belum ada, ketika akses terhadap literatur catur sangat terbatas, ketika kebanyakan buku catur berkualitas hanya tersedia dalam bahasa asing — Djamil Djamal menjadi jembatan pengetahuan yang menghubungkan dunia catur internasional dengan para pecatur Indonesia.
Menerjemahkan Karya-Karya GM Dr. Max Euwe
Salah satu kontribusi penerjemahan terpenting beliau adalah menerjemahkan buku-buku catur karangan Grandmaster Dr. Max Euwe, mantan Juara Dunia Catur asal Belanda yang memegang mahkota tertinggi catur dunia pada tahun 1935–1937, dan kemudian juga menjadi Presiden FIDE.
Max Euwe dikenal sebagai penulis buku catur yang sangat produktif dan berkualitas tinggi. Buku-buku Euwe terkenal karena penjelasannya yang sistematis, logis, dan mudah diikuti — kualitas yang sangat penting untuk buku-buku instruksional catur. Namun, buku-buku itu ditulis dalam bahasa Belanda, Jerman, dan Inggris — bahasa-bahasa yang tidak dikuasai oleh sebagian besar pecatur Indonesia pada masa itu.
Di sinilah Djamil Djamal tampil dengan perannya yang sangat krusial. Beliau menerjemahkan buku catur karya Max Euwe ke dalam Bahasa Indonesia, sehingga ribuan pecatur di seluruh Nusantara bisa mempelajari teori-teori catur kelas dunia dalam bahasa mereka sendiri. 2 diantara buku itu berjudul, Sendi Dasar Ilmu Bermain Catur, dan Strategi dan Taktik Dalam Permainan Catur!
Sungguh, jika kita merenungkan hal ini baik-baik, betapa besar dampaknya! Berkat terjemahan-terjemahan Djamil Djamal, seorang pemuda di pelosok Indonesia yang mungkin tidak bisa berbahasa Belanda atau Inggris, tiba-tiba bisa mempelajari pemikiran seorang Juara Dunia Catur. Jendela ilmu yang tadinya tertutup rapat, kini terbuka lebar berkat kerja keras dan dedikasi satu orang: Djamil Djamal.
"Buku Seri Perangkap Dan Muslihat Catur"
Selain menerjemahkan karya orang lain, Djamil Djamal juga menulis karya-karyanya sendiri. Dan di antara semua karya tulisnya, yang paling legendaris barangkali adalah seri buku berjudul "perangkap Dan Muslihat Catur" yang dibedakan dari sifat opening, yaitu opening terbuka (1.e4 e5), opening setengah terbuka (1.e4 selain e5), opening tertutup (1.d4 d5), opening setengah tertutup (1.d4 selain d5) dan opening sayap (selain 1.e4 dan selain 1.d4).
Buku seri ini membahas tentang jebakan-jebakan dalam pembukaan catur — bagaimana menghukum lawan yang melakukan kesalahan di tahap pembukaan, bagaimana memasang perangkap yang mematikan sejak langkah-langkah awal, dan bagaimana mengenali muslihat-muslihat yang sering muncul dalam berbagai variasi pembukaan.
Bagi para pecatur, kita tahu betul bahwa pembukaan adalah fase yang sangat kritis. Satu kesalahan kecil di pembukaan bisa berakibat fatal — dan buku "Perangkap Dan Muslihat Catur" karya Djamil Djamal mengajarkan kita bagaimana memanfaatkan kesalahan lawan sekaligus menghindari jebakan yang mungkin dipasang untuk kita.
Seri buku ini menjadi bacaan wajib bagi banyak pecatur Indonesia pada masanya. Buku-buku ini beredar luas, dipinjamkan dari tangan ke tangan, dibaca berulang-ulang hingga halamannya lusuh, dan menjadi panduan setia bagi siapa saja yang ingin meningkatkan kemampuan caturnya. Di era sebelum database komputer dan engine catur, buku-buku seperti inilah yang menjadi "guru" bagi para pecatur di seluruh penjuru Indonesia.
Sampai hari ini, buku-buku "Perangkap Dan Muslihat Catur" masih dicari-cari oleh para kolektor dan pecinta catur dan masih ada dijual secara online di e-commerce di Indonesia. Buku-buku itu telah menjadi bagian dari warisan budaya catur Indonesia yang tak ternilai harganya.
Kontribusi dalam Media dan Publikasi Catur
Kiprah Djamil Djamal dalam dunia tulis-menulis tidak hanya terbatas pada buku. Beliau juga aktif menulis artikel-artikel catur yang dimuat di berbagai media. Di era ketika majalah dan surat kabar menjadi sumber informasi utama, tulisan-tulisan beliau menjadi jendela pengetahuan yang sangat berharga.
Kita bisa melihat jejak semangat era itu dalam majalah-majalah catur lawas seperti "Tjatur & Bridge" yang terbit sekitar tahun 1962, dan "Maajalah Catur Nasional (MACAN) yang legendaris" yang terbit sekitar tahun 1981. Majalah-majalah ini menjadi saksi bisu betapa hidupnya dunia catur Indonesia pada masa itu — dan sosok seperti Djamil Djamal berada di garis terdepan, turut mengisi dan menghidupkan publikasi-publikasi tersebut dengan tulisan-tulisan berbobot.
Melalui artikel-artikelnya, Djamil Djamal tidak hanya berbagi pengetahuan teknis tentang catur, tetapi juga turut membangun budaya literasi catur di Indonesia. Beliau menunjukkan bahwa catur bukan hanya soal duduk di depan papan dan menggerakkan bidak — catur juga soal membaca, belajar, menganalisis, dan terus mengembangkan diri melalui pengetahuan teori catur tertulis.
Kepergian Sang Maestro
Pada tanggal 23 Desember 2008, dunia catur Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Djamil Djamal meninggal dunia di Jakarta, meninggalkan warisan yang begitu besar dan begitu dalam bagi percaturan Tanah Air.
Berita kepergiannya diliput oleh media-media nasional, termasuk Kantor Berita ANTARA, yang dalam laporannya menyebut beliau sebagai "Bapak Catur Indonesia." Sebuah pengakuan yang sangat layak untuk seseorang yang telah mencurahkan hampir seluruh hidupnya — dari masa muda hingga usia senja — untuk memajukan catur di negeri ini.
Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu
Sekarang, mari kita berhenti sejenak dan merenungkan: apa sebenarnya warisan terbesar Djamil Djamal?
Apakah buku-bukunya? Ya, tentu saja. Buku-buku beliau, baik yang ditulisnya sendiri maupun yang diterjemahkannya, telah mendidik dan menginspirasi ribuan — bahkan mungkin puluhan ribu — pecatur Indonesia lintas generasi.
Apakah perannya sebagai wasit internasional? Tentu. Beliau membuktikan bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia yang mampu tampil di panggung internasional dalam segala aspek catur, tidak hanya sebagai pemain.
Apakah keaktifannya sebagai pengurus PERCASI? Sudah pasti. Tanpa kerja keras beliau dan rekan-rekan seperjuangannya dalam membangun organisasi catur nasional, mustahil catur Indonesia bisa berkembang sampai sejauh ini.
Tapi mungkin, warisan terbesar Djamil Djamal adalah sesuatu yang lebih sulit diukur namun jauh lebih dalam dampaknya: beliau memberikan teladan tentang apa artinya mengabdi dengan tulus kepada sesuatu yang dicintai.
Djamil Djamal tidak mungkin tidak menjadi kaya raya karena catur. Beliau tidak menjadi selebritas layaknya artis film dan terkenal karena catur. Tapi beliau tetap bertahan, tetap berkarya, tetap mengabdi — puluhan tahun lamanya — karena beliau mencintai catur dan mencintai Indonesia. Dedikasi seperti itu, di zaman apa pun, adalah sesuatu yang sangat langka dan sangat berharga.
Pelajaran untuk Kita Semua
Kisah Djamil Djamal mengajarkan kita banyak hal.
Pertama, bahwa kemajuan tidak pernah terjadi secara kebetulan. Kemajuan catur Indonesia yang kita nikmati hari ini — dengan hadirnya Grandmaster-Grandmaster Indonesia, dengan tersedianya berbagai sumber belajar catur — semua itu berdiri di atas fondasi yang dibangun oleh orang-orang seperti Djamil Djamal dan tokoh-tokoh catur Indonesia lainnya dari masa ke masa. Mereka bekerja keras di masa ketika segalanya masih serba sulit, agar generasi setelah mereka bisa berjalan di jalan yang lebih rata.
Kedua, bahwa kontribusi terhadap catur tidak harus selalu berupa prestasi bermain sebagai atlet catur. Menulis, menerjemahkan, melatih, mewasiti, mengurus organisasi, membangun sistem — semua itu adalah bentuk kontribusi yang sama mulianya. Djamil Djamal membuktikan bahwa seseorang bisa menjadi tokoh besar dalam dunia catur melalui pengabdian di berbagai bidang, bukan hanya melalui gelar dan rating sebagai pemain atlet semata.
Ketiga, bahwa organisasi yang kuat adalah kunci kemajuan. Djamil Djamal sebagai pengurus PERCASI yang sangat aktif telah menunjukkan kepada kita bahwa di balik setiap prestasi individu, selalu ada organisasi yang bekerja di belakang layar. Tanpa PERCASI yang dikelola dengan serius oleh orang-orang berdedikasi seperti beliau, bakat-bakat catur Indonesia mungkin tidak akan pernah mendapatkan wadah untuk berkembang seperti saat ini.
Keempat, bahwa pengetahuan harus dibagikan. Djamil Djamal bisa saja menyimpan semua ilmunya untuk dirinya sendiri. Tapi beliau memilih untuk menuliskannya, menerjemahkannya, dan membagikannya seluas-luasnya. Karena beliau tahu bahwa ilmu yang dibagikan akan berlipat ganda manfaatnya, sementara ilmu yang disimpan sendiri akan ikut hilang bersama pemiliknya.
Mengenang dengan Rasa Hormat dan Syukur
Di era digital ini, ketika kita bisa mengakses jutaan partai catur hanya dengan beberapa klik, ketika engine catur bisa menganalisis posisi dalam hitungan detik, ketika video tutorial catur bertebaran di mana-mana — mudah sekali bagi kita untuk melupakan bahwa semua ini tidak datang begitu saja.
Ada masa ketika satu-satunya cara belajar catur adalah melalui buku. Dan di Indonesia, banyak dari buku-buku itu ada karena tangan-tangan rajin Djamil Djamal yang menuliskannya dan menerjemahkannya untuk insan catur Indonesia.
Ada masa ketika turnamen catur harus dikelola tanpa bantuan teknologi. Dan di masa itu, mata jeli dan integritas Djamil Djamal dan para wasit catur lainnya kala itu sebagai wasit internasional menjaga agar pertandingan berjalan dengan adil.
Ada masa ketika organisasi catur Indonesia harus dibangun dan dijalankan dengan segala keterbatasan sumber daya (termasuk dana). Dan di masa itu, keaktifan dan keuletan Djamil Djamal dan pengurus catur lainnya sebagai pengurus PERCASI menjadi motor penggerak yang tidak kenal lelah.
Untuk semua itu, kita — seluruh komunitas catur Indonesia — berutang rasa terima kasih yang sangat besar kepada almarhum Djamil Djamal.
Penutup: Sebuah Nama yang Harus Tetap Dikenang
Jika kita benar-benar mencintai catur, maka kita juga harus mencintai sejarahnya. Dan dalam sejarah catur Indonesia, nama Djamil Djamal tertulis dengan tinta emas yang tidak akan pernah pudar.
Beliau adalah pemain, wasit internasional, pengurus PERCASI yang sangat aktif, pelatih, penulis, penerjemah, dan di atas semua itu — beliau adalah seorang pecinta catur sejati yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk permainan yang kita cintai bersama.
Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa di balik setiap langkah kemajuan yang kita nikmati hari ini, ada jejak-jejak perjuangan orang-orang besar di masa lalu. Dan Djamil Djamal, sang "Bapak Catur Indonesia," adalah salah satu di antara mereka itu.
Terima kasih, Pak Djamil Djamal MN, IA. Jasamu tidak akan pernah kami lupakan. ♟️
Referensi: Wikipedia Indonesia, Kantor Berita ANTARA, Perpustakaan Nasional RI, berbagai sumber sejarah catur Indonesia, dan sumber-sumber lainnya.
Mohon maaf dan Terima kasih.
HeDar.




.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar