[Sejarah Catur] Mengenal NISB: Organisasi Resmi Catur Hindia Belanda Sebelum Percasi
Setiap kali kita memajukan bidak pion pertama di atas 64 petak hitam-putih, kita sedang melanjutkan sebuah tradisi strategi yang telah berumur ribuan tahun. Namun, tahukah Anda bagaimana "Pembukaan" ( Opening ) sejarah catur yang terorganisir di bumi Nusantara ini dimulai? Jauh sebelum Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PERCASI) berdiri, ada sebuah organisasi yang membuka jalan, menata barisan, dan mempromosikan olahraga otak ini di masa Hindia Belanda. Organisasi itu bernama NISB.
Mari kita membongkar 11 fakta menarik tentang NISB, Organisasi Catur Resmi Jaman Hindia Belanda!
1. Apa Itu NISB? Langkah Pembukaan Catur Terorganisir
NISB adalah singkatan dari Nederlandsch-Indische Schaakbond (Persatuan Catur Hindia Belanda). Ini merupakan perkumpulan atau federasi catur pertama yang resmi berdiri di Indonesia pada bulan April tahun 1915 di Yogyakarta. Sebelum adanya NISB, para pecatur Eropa dan pribumi bermain secara sporadis tanpa rating atau turnamen yang diakui secara nasional. NISB hadir sebagai wadah resmi yang mengonsolidasikan seluruh bidak-bidak catur yang berserakan menjadi satu pasukan yang terstruktur. NISB inilah yang kelak menjadi cikal-bakal berdirinya PERCASI di masa depan.
2. Tujuan Berdirinya NISB: Visi Besar di Atas Papan
Bagaikan seorang Grandmaster yang meracik strategi penyerangan jangka panjang, NISB didirikan dengan tujuan yang sangat jelas: menyatukan klub-klub catur dan penggemar catur yang tersebar di berbagai wilayah kepulauan, mempromosikan permainan catur agar lebih membumi, dan menyelenggarakan kejuaraan tingkat nasional untuk mengukur kekuatan para pecatur Hindia Belanda secara sah. Mereka ingin menciptakan iklim kompetisi yang sehat dan rutin bagi para pecatur.
3. Tokoh-Tokoh "Grandmaster" Pendiri NISB
Berdirinya organisasi raksasa ini tidak lepas dari pergerakan "Menteri" dan "Kuda" yang lincah dari para pelopornya. Gagasan penyatuan ini digerakkan oleh para antusias catur dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Tokoh-tokoh sentral yang membidani lahirnya NISB antara lain adalah C. van der Vecht, D.J.W. Hagemann, J.G. Geiger, L.G. Eggink, J. Gouwentak, dan L.H. Pluim Mentz yang kemudian didaulat sebagai Presiden (Ketua Umum) pertama NISB. Tokoh lain seperti Dirk Bleykmans—seorang pecatur kuat Belanda—juga memegang peranan krusial sebagai motor penggerak kompetisi.
4. Klub Catur Anggota NISB: Benteng-Benteng Pertahanan
Pada masa kejayaannya, NISB memayungi berbagai klub catur ( Schaakclub ) elit di Hindia Belanda. Klub-klub ini ibarat benteng pertahanan yang solid:
- Soerabajasche Schaakclub (SSC) di Surabaya (klub tertua dan terbesar yang berdiri sejak tahun 1896).
- Schaakclub Batavia (Jakarta).
- Schaakclub Bandoeng (Bandung).
- Semarangsche Schaak- en Damvereeniging (Semarang).
- Schaakclub Djokja (Yogyakarta).
- Schaakclub Magelang, Solo, Salatiga, dan Malang.
- Bahkan pengaruhnya meluas ke luar Jawa, dengan bergabungnya klub dari Bandjermassin (Kalimantan) dan Palembang (Sumatera), serta klub-klub militer seperti D.O.S. di Magelang dan klub pribumi/sekolah seperti Osvia.
5. Kegiatan Agresif NISB: Menghidupkan Caissa
Kegiatan NISB sangatlah komprehensif, tidak hanya sekadar berkumpul. Taktik mereka meliputi:
- Penerbitan majalah catur bergengsi bulanan bernama Tijdschrift van den Nederlandsch-Indischen Schaakbond, yang mengupas analisis partai, teori pembukaan, dan problem catur (problem catur ini dikelola secara khusus oleh H. Meyer).
- Mengadakan "Grooten Bondswedstrijd" (Kejuaraan Catur Nasional/Kongres Catur) secara rutin setiap tahun.
- Menyelenggarakan pertandingan catur korespondensi (lewat pos) yang memungkinkan pecatur di pelosok Nusantara tetap bisa bertanding silang.
- Memfasilitasi pertandingan antar klub ( Massa-kamp ) dan simulasi dengan master dunia.
6. Para "Raja" dari Kalangan Belanda dan Non-Pribumi
Pada masa NISB, percaturan didominasi oleh perwira, dokter, dan elit Eropa serta Non-Pribumi. Nama-nama besar yang kerap menguasai papan atas antara lain:
- Belanda/Eropa: D. Bleykmans (Juara yang sangat ditakuti dan sering dianggap "Raja Mutlak" catur Hindia Belanda era awal), Jonas Safier (dikenal sebagai "ensiklopedia berjalan" teori catur), L.G. Eggink, J. Gouwentak, Dr. A. Deutman, Dr. M.F. Drognat Doeve, dan J.G. Baay.
- Tionghoa & Arab: Oei Kang Ing, Liem Tjoe Bo, Oei Khee San, Hadji Amin, Hadji Mohamed Arsad, dan Ali Baswedan adalah pemain-pemain tangguh yang sering meraih hadiah dalam pertandingan lokal maupun nasional klub Surabaya dan wilayah lain.
7. Ancaman Mat dari Pecatur Pribumi (Batak, Jawa, dll)
Bidak pribumi tidak bisa diremehkan. Dengan taktik alamiah yang mematikan, beberapa nama mencuat sebagai momok menakutkan bagi kaum Eropa:
- Si Narsar Karo-Karo (Batak): Ia adalah legenda besar! Kehebatannya menundukkan master-master Belanda membuatnya dijuluki oleh media Belanda sebagai "Bataksche Capablanca" dan "Oostkustsche Tarrasch". Selain Narsar ada lagi Si Toemboek dan Si Ngoekoem, dan lain-lainnya pecatur kuat dari tanah Karo.
- Sudiro (Jawa): Tokoh pergerakan yang sejak SD di HIS Netral tekun belajar catur. Ia secara heroik mengalahkan Juara Catur Dunia asal Belanda, Max Euwe, dalam sebuah partai simultan. Selain Sudiro, ada kawan sekelasnya, Ratib, yang berhasil menahan remis Euwe.
- Pecatur tangguh lainnya: Mahulete (dokter asal Ambon yang dinas di Lawang Malang, yang sangat kuat permainannya), Engelen, dan Latief Panei yang sering berpartisipasi di Kejuaraan Nasional.
8. Turnamen-Turnamen Megah Jaman NISB
Turnamen yang paling bergengsi adalah "Grooten Bondswedstrijd", kejuaraan nasional tahunan yang memperebutkan kasta tertinggi ( Hoofdklasse ) dan dibagi ke berbagai kelas hingga pemula. Kejuaraan ini dirotasi dari kota ke kota. Tercatat turnamen besar ini dihelat di Garoet (1916), Semarang (1917), Soerabaia (1918), Batavia (1919), Bandoeng (1920), hingga Djokjakarta (1924) dan terus berlanjut dengan gemilang hingga terhenti oleh perang dunia.
9. Serangan Simultan dari Grandmaster Kelas Dunia
Hindia Belanda cukup seksi untuk masuk radar catur dunia. Beberapa Master dan Grandmaster elit pernah melakukan tur eksibisi simultan dan coaching clinic ke berbagai kota:
- Boris Kostić (1925): Grandmaster asal Serbia ini datang ke Indonesia dan mengadakan pertandingan. Salah satu duel yang paling unik adalah kunjungannya ke Medan, berhadapan langsung dengan kejeniusan pecatur Batak (termasuk Si Narsar), serta mengunjungi kota-kota di Jawa seperti Salatiga.
- Max Euwe (1930): Sang legenda Belanda yang kelak menjadi Juara Dunia ini bertandang ke Magelang pada 22 September 1930. Ia melakukan pertandingan simultan melawan 42 pecatur lokal. Ironisnya, faktor kelelahan di perjalanan membuatnya harus mengakui kehebatan pemuda lokal bernama Sudiro.
- Alexander Alekhine (1933): Sang Juara Dunia ikonik ini singgah di Hindia Belanda atas undangan resmi NISB. Alekhine menggelar tur pertandingan simultan yang luar biasa di sejumlah kota: Jakarta, Bandung, Surabaya, Cepu, Sukabumi, Yogyakarta, hingga Palembang.
10. Babak Akhir NISB dan Promosi Menjadi PERCASI
Kejayaan NISB menemui masa yang kelam tatkala pecah Perang Dunia Kedua dan masuknya pendudukan Jepang (1942). Seluruh kegiatan catur terhenti dan membeku. Pasca Proklamasi Kemerdekaan 1945, di tengah api revolusi fisik, animo catur hidup kembali di Pulau Jawa.
Transisi terjadi ketika para pecatur pribumi mengadakan pertandingan klub antara Percaso (Persatuan Catur Solo) melawan Percam (Persatuan Catur Mataram) di pendopo Karesidenan Surakarta. Pertandingan ini diizinkan langsung oleh Sudiro (yang saat itu menjabat sebagai Residen Surakarta). Saat pertandingan itulah, Ketua Percam, dr. Suwito Mangkusuwondo, mengusulkan perlunya wadah catur nasional untuk negara yang baru merdeka ini. Alhasil, pada tahun 1948 terbentuklah PERTJASI (Persatoean Tjatoer Seloeroeh Indonesia). Organisasi ini baru diresmikan secara formal pada 17 Agustus 1950 di Yogyakarta dengan nama yang kita kenal sekarang, PERCASI, dan Dr. Suwito Mangkusuwondo menjabat sebagai Ketua Umum pertamanya. PERCASI inilah yang kemudian membawa Indonesia bergabung ke badan catur dunia (FIDE) di tahun 1953.
11. Post-Mortem: Pelajaran Berharga dari NISB
Dari partai sejarah yang dimainkan oleh NISB, ada banyak pelajaran positional yang bisa kita petik:
- Catur adalah Bahasa Universal: Di atas meja catur, ras, strata sosial, dan latar belakang runtuh. Orang Eropa, Arab, Tionghoa, dan Pribumi bersatu, saling menghargai, dan belajar satu sama lain.
- Organisasi dan Literasi adalah Kunci: NISB kuat karena memiliki struktur yang rapi, pendanaan dari iuran anggota yang jelas, dan majalah (Tijdschrift) yang terus merekam notasi partai serta teori-teori baru. Kearsipan yang baik membuat catur tumbuh secara metodis.
- Bakat Terpendam Nusantara: Sejarah mencatat bahwa kecerdasan pecatur lokal (seperti Si Narsar, Si Tumbok, Si Ngoekoem dan Sudiro) mampu menumbangkan dominasi elit dan Juara Dunia. Ini membuktikan DNA catur orang Indonesia sangatlah kuat sejak dulu.
Referensi:
-1915 - 1925 - NISB
-1896-1936 JUBILEUM UITGAVE - SOERABAJASCHE SCHAAKCLUB
Semoga tulisan rangkuman singkat ini dapat menambah wawasan kita semua tentang betapa kayanya sejarah catur di tanah air kita. Terus asah taktik, jangan pernah takut bermain menyerang demi mat yang indah, dan belajarlah bersabar agar lawan lengah dan membuat blunder dan Gens Una Sumus (Kita adalah satu keluarga)!
HeDar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar